Ep 6: Pembusukan sebagai tindakan erotis, 2022
En Id Pt
Menu
Info

Ep 6: Pembusukan sebagai tindakan erotis, 2022

Brigitte Baptiste
Lino Arruda
Durasi film: 0:00

Pembusukan sebagai tindakan erotis

Percakapan dengan Brigitte Baptiste berlangsung pada 19 Juli 2021, melalui platform ZOOM. Naskah wawancara ini dikembangkan oleh Marilia Loureiro, yang saat itu menjabat sebagai kurator di Casa do Povo, dan Daniel Lie. 

Seniman rupa Lino Arruda diundang untuk bereaksi terhadap percakapan dengan Brigitte Baptiste dan membuat dua ilustrasi dan sebuah buku komik. Kutipan yang ditanggapi Lino tampil disorot di seluruh teks. 

Judul episode ini terinspirasi oleh pernyataan yang dibuat oleh Brigitte selama percakapan dengan Marília dan Daniel. Transkripsi percakapan diedit oleh Ruli Moretti dan diterjemahkan oleh Daniel Lühmann (dari bahasa Spanyol ke bahasa Portugis) dan Kevin Kraus (dari bahasa Portugis ke bahasa Inggris).

Brigitte Baptiste: Terima kasih atas undangan yang luar biasa dan menggoda ini, terutama karena acara yang disebut Rotten TV menurut saya adalah yang terbaik.

Baiklah, saya Brigitte Baptiste. Sebagai Brigitte, saya berusia 22 tahun, dan tanpa nama itu, saya hampir berusia 58 tahun. Saya belajar biologi di Kolombia – yang memberi saya perspektif yang sangat Amazonian – dan saya tinggal di banyak bagian dunia, belajar dan bepergian. Saya selalu sangat terhubung dengan universitas, meneliti isu-isu terkait ekologi, terutama ekologi lanskap – yang menafsirkan fakta-fakta ekologi dari perspektif budaya.

Ketika saya menjadi Brigitte secara publik, saya memahami dan mampu mempraktikkan banyak hal yang sekarang saya yakini sebagai kehidupan, perubahan hidup dan hubungan antara kehidupan-dunia – dan juga kematian, tentu saja.

Marilia Loureiro: Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang pemikiran dan gagasan Anda mengenai ekologi queer?

B.B.: Saya pikir pendekatan terbaik adalah melalui seni, terutama sastra, di mana konsep queer berasal. Ketika seseorang berhadapan dengan sebuah novel, karya sastra, esai, puisi, drama, mereka akhirnya memasuki alam semesta di mana hubungan yang dibangun antara aktor dan protagonis dari suatu plot hampir selalu salah, penuh ambiguitas dan pesan yang saling berkelindan – digunakan secara bergilir untuk menciptakan efek integritas dan dramatisasi yang membentuk karya. Anda tidak bisa mengetahui identitas mereka yang terlibat dalam plot dan cerita. Citra atau persepsi Anda tentang karakter-karakter tersebut selalu tidak stabil, tidak lengkap, dan juga sangat mengesankan dalam afeksi Anda sendiri – yang bergantung pada bagaimana Anda berkelindan dengan karya tersebut, dengan siapa Anda berpihak – terutama ketika sebagian besar ketegangan berasal dari identitas seksual dan gender, dan bagaimana hasrat yang tak terhindarkan masuk melalui narasi yang sedang diekspresikan.

Hal yang sama terjadi dalam ekosistem: kita menghadapi kompleksitas hubungan antara makhluk hidup, antara aktor lembam dan imajiner yang kita berikan agensi, dan di antara diri kita sendiri, sampai pada titik di mana sangat sulit untuk menangkap esensi atau identitas permanen dan stabil – jika ada – dari mereka yang berpartisipasi dalam hubungan ekosistem.

Dalam novel, Anda dapat mencoba melanjutkan beberapa titik dalam narasi, membaca ulang dan kembali sedikit; dalam ekosistem, tidak terlalu banyak, karena semuanya terjadi secara nyata, dan memaksa menghubungkan semua aktor adalah sesuatu yang sangat erotis, berdasarkan hasrat – yang dapat merusak, merampas, simbiotik: ada sebuah cara mengumpulkan yang utuh untuk mendekati satu sama lain. Di balik ini adalah potensi awal dari seksualitas, yang mengatakan kepada kita sepanjang waktu: “tukarkan, tukarkan gen Anda dengan gen siapa pun yang Anda bisa!”, karena ini adalah urusan evolusi: Saya menyimpan beban genetik saya yang sama, saya tidak akan dapat berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan ekosistem alam semesta. Jadi yang terjadi adalah hubungan linguistik, karena kita berbicara tentang perubahan DNA. Seperti dalam novel, ini adalah hubungan genetik, tentang pertumbuhan, tentang bahasa baru, dan yang jelas penuh dengan ketidakpastian.

Jadi, singkatnya, ekologi queer adalah sebuah penafsiran ekologi yang mengakui, untuk sebagian besar, ketidakterproduksian hubungan yang dihasilkan setiap hari dalam apa yang kita sebut alam; apa yang unik dan kuat, erotis di baliknya, karena semuanya dibangun berdasarkan seksualitas. Dari sini, identitas gender, perilaku heteronormatif, dan semua kemungkinan menjadi dan menggabungkan keberadaan muncul, karena kita tahu bahwa di situlah keberlangsungan hidup ditemukan.

M.L.: Bagi saya, ini merupakan cara yang sangat puitis dan cara yang jelas menyentuh subjek ini, sebagai cara membaca, membangun konsep dan membuat cerita, dari sudut pandang yang lain, dengan berbagai lensa lainnya untuk suatu hubungan. Berpikir tidak hanya tentang tubuh manusia – tetapi juga tentang sayuran, bakteri dan semua makhluk hidup – bagaimana kita bisa berbicara tentang gagasan homogenitas dan kesamaan, di satu sisi, dan juga tentang apa yang segar, di sisi lain, mengingat bahwa ini adalah konsep yang cukup normatif, yang membangun dan memandu pandangan alam dari perspektif manusia, dan bagaimana ekologi queer menggeser hal tersebut ke arah konsep dan narasi lain?

B.B.: Dalam sejarah asal-usul dan ekologi masyarakat adat Amazon, serta dalam mitologi Nordik, Yunani, Afrika, Asia atau Hindu, ada interaksi yang sangat bergairah antara manusia dengan dunia hewan dan sayuran, yang mewakili hubungan kehidupan alam semesta yang jauh lebih luas daripada yang biasanya, terutama di bawah pandangan reduksionis tentang alam, yang datang, saya pikir, dari kesedihan tentang pergerakan dan perubahan, dari kebutuhan akan akumulasi dan keamanan yang kita miliki, atau yang telah dipaparkan ke kita, untuk tidak mengambil risiko dan untuk menjamin sebanyak mungkin kondisi pengoperasian – atas tubuh, keluarga, pemerintah atau perusahaan – karena ketidakpastian sangat menakutkan. Ada beberapa tingkatan di mana kita merasa atau ingin merasa lebih aman dan lebih yakin terhadap berbagai hal. Oleh karena itu, kita menciptakan hubungan kepercayaan berdasarkan klasifikasi dari berbagai hal, di mana, jelas apa yang terlihat lebih mirip dengan saya akhirnya tampaknya bermanfaat bagi saya karena itu meyakinkan saya. Jadi, segala sesuatu yang mirip meyakinkan saya, dan segala sesuatu yang berbeda menimbulkan kesedihan dan menghasilkan rasa takut – yang tidak ada dalam budaya kuno, di mana gagasan tentang keamanan cukup enteng.

Kita hidup sedikit terjebak dalam paradoks tidak ingin berubah, melindungi masa kini dan apa yang kita miliki, tetapi, pada saat yang sama, mengetahui bahwa di dalam diri kita segala sesuatunya bergerak – bahwa bakteri di dalam usus memakan kita sedikit demi sedikit setiap harinya, dan kita harus memberi mereka makan, kalau tidak mereka akan memakan kita semua. 

Jadi saya pikir ini adalah pertanyaan untuk menerima sedikit lebih banyak gagasan tentang menjadi bagian dari metabolisme yang besar; satu-satunya hal yang dapat kita yakini adalah kematian, namun kita mencoba untuk hidup dalam kematian. Oleh karena itu, gagasan tentang kesegaran juga begitu gigih dalam pandangan kontemporer kita tentang berbagai hal. Kita selalu ingin segala sesuatunya berjalan dalam skala ruang dan waktu kita, dan kita manusia memiliki keterbatasan indera yang sangat khusus: kita mendiami beberapa ratus meter, terkadang beberapa kilometer persegi; kita hidup beberapa dekade – lima atau enam dekade dengan kesadaran; dalam menggabungkan kedua faktor ini, kita sedikit menyadari sebagian besar hal yang terjadi di sekitar kita, dan ini membuat kita menipu diri kita sendiri sampai berpikir bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa dunia tidak berubah. Tetapi konstruksi yang tampaknya menenangkan ini tetap saja sangat menyangkal, terutama dalam kaitannya dengan kapasitas yang melekat pada semua hal untuk tetap bergerak dan terus mengubah satu sama lain – di luar pemahaman bahwa berkat gerakan inilah segala sesuatu yang baru, inovatif atau adaptif muncul.

Saya juga menganggap bahwa cara kita mempraktikkan perubahan adalah sesuatu yang tetap menjadi tantangan, dan bahwa hanya melalui seni kita akan dapat menghidupkan kembali rezim manusia, sedangkan terkadang bahkan sains memberi kita ketenangan palsu.

Daniel Lie: Brigitte, saya tertarik dengan bagaimana Anda memahami pembusukan, proses pembusukan, dari sudut pandang ekologi queer. Agen-agen seperti apa yang bertindak dalam proses ini? 

B.B.: Pembusukan selalu merupakan ruang di mana yang tidak berguna menjadi sesuatu yang lain: ini seperti kemungkinan untuk meninggalkan sesuatu di mana kita merasa nyaman, mengijinkan diri kita dikonsumsi untuk sesuatu yang melemahkan kita dan memperbolehkan hal-hal lain muncul atau terlihat dalam upaya untuk membentuk suatu metamorfosis; hal ini selalu diperlukan untuk memutuskan ikatan tertentu: ketika ular mengganti kulit mereka, mereka meninggalkannya begitu saja, tetapi agar ini terjadi, beberapa sel harus diperingatkan bahwa “sudah waktunya untuk mati”.

Membiarkan pembusukan atau menyebabkan pembusukan adalah tindakan kreatif yang mendasar, yang juga bekerja dengan ide-ide, dengan bahasa, dengan arsitektur, dengan sistem secara umum. Dan jika pembusukan dikaitkan dengan tindakan cinta atau tindakan erotis, maka itu bukanlah sesuatu yang membawa kita pada kematian, tetapi pada kelahiran kembali: setiap momen perubahan secara bersamaan memberi Anda kemungkinan untuk terlahir kembali atau menghilang, yang dimana sangat tulus dan definitif, karena pembusukan, pergantian kulit, penetasan telur, benih yang terbang di udara adalah momen yang paling rentan dari semuanya, tetapi juga momen yang paling banyak memusatkan kekuatan dalam hal kelahiran kembali dan ekspansi. Dalam hal ini, pembusukan adalah bagian dari proses signifikasi ulang yang konstan mengenai perubahan.

Di Amazon, proses perubahan organik begitu cepat sehingga memaksa Anda untuk terus-menerus menandai kembali, bahkan kondisi Anda sendiri sebagai makhluk hidup. Sesuatu yang, misalnya, di pegunungan Bogotá, di ketinggian 2.600 meter, sedikit lebih lambat, tidak terlalu menakutkan. Itulah sebabnya mengapa biayanya begitu banyak dan masih membutuhkan biaya bagi Barat untuk menghuni hutan hujan, karena mereka selalu melihatnya dengan mata yang mengancam, karena semuanya terlalu ramai, ini terlalu hidup – dan begitu banyak kehidupan yang membuat kita takut.

D.L.: Cukup sulit apa yang Anda bicarakan. Saya telah mengamati pembusukan sebagai sesuatu yang non-biner, yaitu antara hidup dan mati, yang berhubungan dengan apa yang Anda katakan tentang transmutasi materi, yang begitu sering dilihat sebagai sesuatu yang menjijikkan, tetapi juga yang meregenerasi, berkembang biak, dan memungkinkan kehidupan lain. Sementara itu, apa yang tidak membusuk, apa yang tidak memiliki daya transmutasi sendiri, menjadi sampah – seperti halnya plastik, misalnya. Apa pendapat Anda tentang hal ini? Rasa jijik terhadap pembusukan juga merupakan rasa jijik terhadap kematian: Saya telah mencoba merefleksikan dengan orang-orang di Rotten TV bagaimana mungkin untuk mengubah hubungan ini. Bagaimana kita bisa mengubah hubungan dengan kematian? Sulit untuk mengenali kapan kehidupan berakhir dan kematian dimulai, tetapi ini juga sesuatu yang sangat berbeda dalam kehidupan manusia.

B.B.: Saya senang dengan semua gambaran yang Anda berikan, terutama yang mendobrak dikotomi dan kondisi biner. Ketika Anda berjalan keliling dunia, jika Anda tidak memiliki keinginan untuk terpengaruh – atau bahkan terinfeksi – oleh dunia, Anda berakhir dengan mematikan dan menghilangkannya. Mungkin di situlah letak kekeliruan konstruksi alam yang telah kita bangun dalam beberapa tahun terakhir, terutama mengenai konservasi. “Pengelolaan lingkungan” adalah konsep yang mengerikan karena terdiri dari penghentian dunia: melestarikan taman nasional sebagai surga yang dipenuhi gelembung-gelembung. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Anda tidak harus menjaga kehidupan, tetapi menjaga kehidupan dengan mengurungnya di dalam gelembung, terlepas dari ukurannya, adalah hal yang kontradiktif. 

Dalam biologi saya selalu punya masalah dengan mengorbankan tanaman atau hewan dan kemudian mempelajarinya di laboratorium: jika saya ingin mempelajari kehidupan, apa gunanya mengorbankan seekor burung atau serangga, dan kemudian, di bawah mikroskop, menyatakan: “Oh, itulah kehidupan!”? Ada masalah besar di sana. Ilmu biologi adalah interpretasi ilmu hubungan. Sangat sulit untuk tidak terlibat. Itulah mengapa petani biasanya adalah ahli ekologi terbaik, karena mereka selalu berada di persimpangan jalan karena harus memakan hasil panen mereka, apa yang mereka kembangkan, apa yang mereka rawat dan reproduksi.

Semua proses ekologi dan budaya sebagian besar dibangun di atas pra-pencernaan dari apa yang kemudian kita masukkan ke dalam tubuh kita atau ke dalam budaya kita. Kita berlatih membangun atau menghancurkan hal-hal yang akan kita integrasikan ke dalam wacana kita, ide-ide kita, artefak kita, atau ke dalam tubuh kita. Untuk dapat memakan gandum, kita perlu membuat roti dan menaruh jamur yang melembutkannya, mempersiapkannya untuk dimakan. Ini adalah hubungan yang anggun dan sangat sensual. Ragi mengembang sangat besar dan mengubah tepung, media yang tidak aktif, menjadi sesuatu yang, pada saat tertentu, kita bunuh dan makan. Ini hampir seperti laba-laba yang membuang cairan lambungnya untuk melunakkan makanan dan kemudian kembali untuk memakannya, yang mungkin tampak menjijikkan, tetapi itulah yang kita lakukan dengan segala sesuatu. Sangat sulit untuk memakan sesuatu yang mentah, tanpa proses interpretasi atau transformasi sebelumnya. Dalam proses ini, identitas dari segala sesuatu terus berubah. 

Ragi terdapat dalam luapan busa, dan dicampur dengan gula dan air, tepung tidak lagi menjadi tepung namun menjadi pati, dan semuanya berhenti menjadi seperti semula untuk menjadi sesuatu yang lain. Secara budaya, bagi saya, hal ini tampaknya merupakan efek yang selalu memabukkan, karena saya juga memproyeksikan diri saya pada semua hal yang saya hubungkan di dunia. Saya meninggalkan sebagian kulit saya yang terjebak di dunia dan kemudian menyerapnya kembali ke dalam afeksi saya. Kita larut sedikit setiap hari.

Ketika kita memberikan darah kita untuk nyamuk di hutan, kita berkata: “Mengapa mereka harus menyengat saya? Mengapa kita memiliki nyamuk di dunia ini?” Sementara saya merusak dunia pada tingkat yang sulit dirasakan – menginjak-injak daun-daun kering, memampatkan tanah, dan mengubah kondisi dunia mikro – nyamuk hanya mendapatkan kompensasi kecil dalam bentuk setetes darah, dan begitupun metabolisme saya memberi makan hutan lagi. Tidak perlu mati sepenuhnya untuk terlibat dalam hubungan pertukaran ini, ini bukan pertukaran simbolis atau hipotetis, ini adalah sesuatu yang hidup, yang terjadi terus-menerus.

D.L.: Sangat menarik bagi saya bahwa Anda mengangkat kata “memabukkan”. Saya sedang dalam proses berduka saat ini. Sudah hampir tiga bulan sejak ayah saya meninggal karena Covid-19. Pada saat yang sama, kematian telah menarik minat saya selama bertahun-tahun, ritusnya, jalan keluar dari kehidupan ini dan kematian yang bersifat biner dan sekarang saya juga sedang melalui proses kematian saya sendiri. Tetapi ketika Anda mengatakan “memabukkan”, saya ditinggalkan dengan pertanyaan-pertanyaan kabur ini: mengapa ada kematian? Di mana itu dimulai? Di mana berakhirnya? Mengapa segala sesuatu membusuk?

B.B.: Karena mereka perlu menata ulang secara konstan; bahkan dalam kimia dan fisika, gagasan stabilitas tidak pernah bisa lengkap, karena jika demikian, dunia tidak akan bergerak. Jadi dibutuhkan ketidakseimbangan – yang bisa berupa kuantum, atom, molekul – yang mendorong keruntuhan, mendorong pertemuan; dalam biologi proses ini berakhir menjadi pembusukan; dalam ekologi, suatu gangguan – api yang menghancurkan hutan atau banjir yang memperbaharuinya. 

Tidak ada jalan untuk keseimbangan planet dan lingkungan. Hal ini membuka ruang yang kompleks dalam diskusi perubahan iklim, misalnya, dan transformasi dunia. Apa batas-batas pembusukan untuk tidak membuat semuanya hancur dan kemudian berakhir seperti Venus, tanpa bisa melakukan proses biologis? Yang pasti pembusukan merupakan mesin transformasi, tetapi ia bekerja dalam kemungkinan batas-batas yang konkret dan halus, yang membuat segala sesuatunya bisa menjadi satu atau yang lain.

Mengenai gender, kita selalu merasa sangat tidak stabil, untunglah tidak stabil, karena ini merupakan akumulasi dari atribut yang hampir tak terbatas, penuh dengan kemungkinan dan gestur dan momen kesenangan dan rasa sakit; sepanjang sejarah, dengan suatu jaminan reproduksi, femininitas dan maskulinitas kita telah mencoba melihat diri mereka sendiri dengan sangat disederhanakan, yang bagaimanapun tidak lagi berfungsi, karena kita telah mencapai titik di mana kita jatuh ke dalam kesederhanaan.

Jadi, saya katakan bahwa kita semua harus menjadi sedikit berkebalikan dari diri kita dalam hal gender; jika tidak, afirmasi macho, afirmasi otoriter soliditas menjadi sesuatu yang sangat berbahaya dan bahkan mematikan, karena menghambat perubahan, kreativitas, kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi. Kita tidak menginginkan dunia yang beku, kita menginginkan dunia yang bergerak, dunia yang tidak stabil, tetapi tidak terlalu tidak stabil karena akan membuatnya hancur, tentu saja.

M.L.: Dalam percakapan pertama yang kami lakukan dengan Giuliana Furci, dari Chili, dia memberi tahu kami bahwa pembusukan dimulai setelah puncak reproduksi, dan bahwa dari sana, makhluk mulai rusak dan membusuk, dan bahwa momen terpenting dari sebuah pohon adalah ketika pohon itu tumbang, karena dari sana makhluk-makhluk lain dan kehidupan lain akan berkembang biak. Saya dan Daniel sedikit merenungkan perbedaan antara reproduksi dan perkembangbiakan, dan bagaimana konsep-konsep ini berbeda, tetapi juga berdialog dalam beberapa cara dengan siklus kehidupan dan kematian.

B.B.: Saya sangat menyukai analogi bahwa pohon itu menyerah, meninggalkan jamur, bakteri atau tanaman untuk mengambil tubuh mereka untuk, akhirnya, berubah menjadi tanah dan bergabung kembali ke dalam sisa hutan.

Karena dalam budaya, untuk sebagian besar, ini berarti bahwa tugas kita adalah untuk dapat menyerahkan diri kita sendiri dalam hal memajukan kehidupan, bukan hanya kehidupan biologis, tetapi kehidupan dalam semua kemegahan makna dan interpretasinya: kehidupan simbolis. Dan tidak semua orang perlu bereproduksi secara biologis agar membuatnya masuk akal – tidak semua wanita harus memiliki rahim untuk dianggap wanita, dan sebaliknya juga untuk pria.

Saya pikir apa yang kurang dalam pendidikan kontemporer adalah kembali ke titik di mana generasi baru memahami bahwa hubungan yang indah dengan biologis ini bukanlah sesuatu yang membatasi atau yang mendefinisikan kita, tetapi bahwa hal itu menyehatkan kita sepenuhnya. Fakta bahwa kita adalah makhluk hidup yang kita isi dengan makna dan, oleh karena itu, kita selalu memiliki kemungkinan dan tanggung jawab untuk menjaga kehidupan dalam semua ekspresinya, untuk merasa hidup dan kemudian memproyeksikan kehidupan ke dalam dunia simbolis dan kreatif.

Kita harus mengalami [menjadi] terumbu karang, mengalami kehidupan di puncak kanopi pohon dengan puluhan epifit dan serangga. Hal ini tidak sesuai dengan algoritma, dan itu menyenangkan saya. Kita mungkin mewakili ekosistem, tetapi ekosistem juga akan penuh dengan keacakan, juga penuh dengan ketidakpastian, serta tunduk pada kehancuran atau ledakan makhluk hidup baru. Kejutan-kejutan yang konstan inilah yang memberi makna pada eksistensi.

Saya tidak memiliki keyakinan [agama], jadi bagi saya, menemukan pohon tumbang yang penuh jamur mewakili penemuan yang unik dan indah, yang menyebabkan kehidupan memiliki semua kemegahannya pada saat itu juga, pada saat pohon mati dan jamur muncul. Saya tentu saja ingin kematian saya, baik biologis maupun intelektual, sama seperti ledakan ini.

D.L.: Semua yang kita bicarakan, bagi saya, memiliki satu kata yang sama: energi – dalam semua pengertian dan maknanya, dalam pengertian sains, spiritual, ilmiah dan dalam banyak istilah yang mirip dengan kata “energi” – sebagai sesuatu yang selalu membutuhkan reorganisasi yang konstan.

B.B.: Kita selalu diberitahu, setidaknya di Barat, bahwa energi adalah cahaya, dan cahaya adalah energi, dan cahaya berubah menjadi materi dengan cara yang ajaib; ini jelas dan dapat menjelaskan fotosintesis dengan sempurna, misalnya. Ketika cahaya ditangkap pada daun dan berubah menjadi gula, seperti pisang adalah cahaya yang berubah menjadi materi, mereka adalah proses atom atau kuantum yang benar-benar indah, di mana apa yang merupakan gelombang berubah menjadi materi fisik – tidak lagi menjadi gelombang tetapi dikemas dengan cara lain. Jadi, dengan pembusukan, pisang menyala lagi, karena ia melepaskan energinya kembali; jadi kita hanyalah manifestasi cahaya yang untuk sementara waktu menjadi materi dan kemudian kembali ke asalnya; dan sangat indah untuk berpikir bahwa cahaya berputar sedemikian rupa, sehingga cahaya itu queer lagi.

Lino Arruda, Ilustrasi 1: “Saya membuat gambar ini dengan memikirkan jumlah agen-agen yang berbeda yang terdiri dari tubuh manusia (menantang eksepsionalisme manusia dan menawarkan konsepsi diri yang tidak terlalu individualistis dan lebih ‘ekologis’). Saya ingin melukiskan agen mikroskopis dan kehidupan simbiotik dengan beban yang ambigu dan mengerikan: menekankan ketergantungan dan kerentanan dari persamaan tubuh manusia ini. Gagasan utama yang mengarahkan ilustrasi ini adalah bakteri dan jamur yang memakan kita setiap hari sedikit lebih banyak, dan kebutuhan untuk memberi mereka makan.”
Lino Arruda, Ilustrasi 2: “Saya membuat gambar ini berdasarkan kalimat ‘dan begitu banyak kehidupan yang membuat kita takut’. Saya ingin merepresentasikan upaya yang menakutkan ini untuk melepaskan diri dari alam yang kacau dan tidak dapat diprediksi, untuk mencari stabilitas dan kemiripan, menyangkal dan menyembunyikan proses yang tidak dapat diatur yang mengatur kehidupan tubuh dengan sendirinya.”

Lino Arruda, Buku komik: “Saya menggambar buku komik ini dengan memikirkan serangan antagonistik masa depan (reproduktif hingga non-reproduktif) dan protagonisme yang kita berikan kepada agen manusia atas yang lain. Tujuan saya adalah memulainya dengan mengasosiasi dildo ke budaya seksual queer (menyenangkan, kreatif, dinamis), dan kemudian sepenuhnya mengekstrapolasi manusia, dengan fokus pada kekuatan dildo untuk menghasilkan dan merawat hubungan yang lain (saya banyak didorong oleh gagasan filsuf Jane Bennett tentang konsep ‘materi yang hidup’).”